Menjelang petang, langit mendung diatas kota jakarta yang merata. Aku yang pulang kerja agak sedikit khawatir karena tidak membawa payung. Aku berharap sama Tuhan supaya jangan dulu turun hujan.
Air dari langit pun sedikit demi sedikit turun dikala itu. Aku dan orang - orang yang juga sedang menunggu bis mulai panik. Tak lama bis yang akan aku tumpangi dari arah tomang menuju tangerang pun datang. Aaaah berdesakan. Tas aku tertekan. Aku sedikit marah karena dalam tasku terdapat leptop yang begitu sangat berharga. Leptop itu tepat aku beli 1 tahun lalu kado terakhir dari bapak sebelum dia pergi menghadap-Nya. Aku sangat sayang sekali dengan leptopku ini. Aku mau menaruhkan nyawa untuknya. hehehe
Hujan pun semakin deras membasahi langit yang mulai gelap itu. Aku bersyukur karena sudah didalam bis meski berdiri bersama orang - orang yang kepayang setelah pulang kerja seharian. Aku berpikir sejenak, aku sadar tidak pernah membawa payung. Padahal tadi pagi mama sempeng ngingatin tapi aku abaikan. Sedikit menyesal, tapi yasudahlah hujan sudah turun. Deras… dan badan ini terasa mengigil karena cuaca yang hujan ditambah aku berdiri tepat dibawah AC.
1 jam berlalu. Aku masih dengan ipod ku mendendangkan lagu Timbland feat Veronica Gardner berjudul Give it a go. Leher dan seluruh badanku seraya ingin bergerak sambil mengingat beberapa adegan film Real Steel yang sempat bikin bergoyang.
Aku hampir sampai ketujuan, rumahku didaerah tangerang. Hujan pun makin deras. Nyaris merata dalam pandanganku. Aku turun tepat dibawah fly over sambil menunggu angkot yang kosong. Setelah 15 menit berlalu aku turun dari angkot didepan gang rumahku. Hati yang ingin segera sampai dirumah karena lelah bekerja seharian. Tanpa pikir panjang pula aku langsung menerobos hujan yang sedikit mereda. Aku melindungi tas yang berisikan barang berharga agar tidak terkena hujan. Setelah jalan 5 menit bajuku basah semua. Aku tidak menghiraukan.
Setelah sampai didepan rumah aku segera masuk dan tak lupa menutup pintu pagar yang terbuka lebar dari tadi. Mataku memandang kursi panjang tua berwarna merah kotak - kotak. Didepan rumah terlihat sepi. Aku jadi teringat seseorang. Yap, aku mengingat bapak :) Dulu setiap pulang kuliah dan hujan - hujanan aku selalu dimarahinya. Tapi kini sekarang telah menjadi kenangan. Aku cuma bisa mengingat sambil menahan rasa kangen ini kepadanya. Aku kangen kalau hujan - hujan begini. Biasanya dia selalu minta dibuatin mie instan dan makan berdua sambil berbincang - bincang.
Hujan kali ini benar - benar membawa aku kemasa lalu. Masa dimana bapak yang paling aku sayang selalu marah - marah setiap aku masuk rumah dalam keadaan basah - basahan.
“Aku tau bapak ada disini. dikursi itu. melihatku dan ingin melarangku masuk kedalam rumah.” kata ku dalam hati. “miss you…”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar